Kiprah Perempuan (KIPPER)

Proses dan Strategi Pemberdayaan Perempuan Eks Tahanan Politik 1965 di Lembaga Kiprah Perempuan (KIPPER) Yogyakarta

INTISARI

Pasca tragedi yang terjadi pada tahun 1965 atau yang dikenal sebagai G30S PKI merupakan insiden berdarah yang menewaskan enam jenderal dan perwira tinggi Angkatan Darat yang kemudian memunculkan narasi bahwa pelaku insiden berdarah tersebut adalah PKI. Adanya narasi tersebut menyebabkan tentara dan warga sipil menangkap ratusan ribu orang baik lakilaki maupun perempuan yang mereka curigai sebagai anggota PKI dan simpatisannya, termasuk organisasi yang memiliki ideologi seperti ideologi PKI untuk disiksa, dibunuh, dan ditahan tanpa proses pra peradilan. Penderitaan yang dialami khususnya pada perempuan tidak hanya pada saat berada ditahanan, tetapi juga setelah keluar dari tahanan. Dengan disandangnya label perempuan eks tahanan politik 1965 sehingga menyebabkan adanya perlakuan diskriminatif dari pemerintah maupun masyarakat, semakinmenyulitkan mereka dalam melakukan aktivitas hidup. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui proses dan strategi pemberdayaan perempuan eks tahanan politik 1965 di Lembaga KIPPER.Dalam penelitian ini, konsep yang digunakan untuk membantu memahami realitas dibalik fakta yaitu konsep penyadaran dari Paulo Freire; konsep proses pemberdayaan dari Sulistiyani; konsep proses pemberdayaan perempuan dari Sumodiningrat; dan strategi pemberdayaan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Lokasi penelitian ini yaitu di Lembaga KIPPER (Kiprah Perempuan) yang terletak di Gang Wiyono, Keparakan Kidul, Mergangsan, Kota Yogyakarta. Teknik penentuan informan menggunakan teknik purposive. Informan berjumlah 16 orang yang terdiri dari Pengurus Lembaga KIPPER, Anggota Lembaga KIPPER, perempuan eks tahanan politik 1965, Pengurus Lembaga FOPPERHAM, Sutradara Teater Tamara, dan anggota perkumpulan eks tahanan politik 1965. Terdiri dari dua unit analisis yaitu Lembaga KIPPER dan perempuan eks tahanan politik 1965. Terdiri dari dua jenis data yaitu data primer dan sekunder.  Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Uji keabsahan data dengan teknik triangulasi, dan jenis triangulasi sumber data. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kegiatan pemberdayaan yang dilakukan oleh Lembaga KIPPER sudah sesuai dengan proses pemberdayaan dan strategi pemberdayaan. Kegiatan pemberdayaan dilakukan melalui tiga proses yaitu keberpihakan dan peningkatan kesadaran perempuan; penyesuaian kapasitas dan pemeliharaan kesadaran; pendampingan dan peningkatan wawasan. Kegiatan pemberdayaan juga dilakukan melalui 4 strategi yaitu pendampingan; penyerapan aspirasi melalui diskusi; menjalin kemitraan dengan berbagai pihak terkait; dan pengutamaan peran masyarakat. Akan tetapi masih ada kendala dalam pelaksanaan proses pemberdayaan yaitu terkait dengan faktor usia, pasang surut relawan, dan faktor ekonomi (finansial).

Kata kunci: Lembaga KIPPER, Pemberdayaan Perempuan, Perempuan eks tahanan politik 1965, Proses Pemberdayaan, Strategi Pemberdayaan