Melihat Performativitas Agung Kurniawan

Qubicleid-Melihat-Performativitas-Agung-Kurniawan

Agung Kurniawan sang Crowd Director!

Agung Kurniawan, salah satu nama besar dalam dalam ranah seni rupa Indonesia. Ia dikenal sebagai aktivis yang memiliki sikap dan posisi tegas dalam menyikapi isu politik, sosial, dan budaya. Agung percaya bahwa menjadi seorang seniman lebih dari sekadar memproduksi karya, tetapi ada tanggung jawab sosial yang lebih besar untuk diemban. Dalam karya-karya Agung—yang secara visual terlihat kasar dan mentah—kekerasan, fenomena politik dan hal-hal tabu adalah tema yang dominan diangkat.

Agung memulai debutnya sebagai ilustrator dan komikus yang menunjukan kritik satir terhadap kondisi masyarakat Indonesia pada periode orde baru. Memang, rezim otoritarianisme itu adalah fase yang bagi Agung selalu aktual untuk dibicarakan. Satu yang cukup populer adalah ilustrasi Agung dalam kover buku kumpulan cerpen Saksi Mata karangan Seno Gumira Ajidarma tahun 1994. Di tahun 1996, ia memenangkan penghargaan seni rupa bergengsi Philip Morris Art Award dalam kategori honorable artist melalui karyanya Verry Verry Happy Victim (1995). Masih menggunakan charcoal, Agung menggambar delapan manusia yang digantung terbalik dengan tangan dan kaki terikat tetapi menunjukkan mimik bahagia. Ini merupakan satir atas masyarakat Indonesia yang berada dalam rezim opresif namun tetap merasa senang karena segala kebutuhan tercukupi.

Sejak 2006, Agung melanjutkan eksplorasi kreatifnya pada apa yang ia sebut sebagai “besi gambar”—yakni menggubah gambarnya dalam bentuk kisi-kisi baja (teralis). Kesan samar, goyah dan rapuh ingin ditunjukan Agung melalui seni teralisnya itu. Secara estetis, Agung memang berupaya menampakan bayangan dari cahaya yang menimpa kisi-kisi baja. Beberapa fragmen masa lalu kehidupannya juga ia olah ke dalam besi gambar.

Menikmati karya Agung adalah perihal kita membaca narasi. Ada kalanya narasi disajikan utuh. Ada pula ketika ia menyajikan fragmen yang kemudian memaksa kita menelaah apakah itu konstruksi atau sudah taken for granted. Namun tidak semua narasi dapat diselesaikan dalam satu media. Agung menaruh perhatian besar pada seni pertunjukan. Ia rutin mengamati dramatic reading yang syahdan mendorongnya mempelajari konsep performativity.

Baginya performativity bisa menjangkau tema-tema yang tidak bisa dicapai oleh medium dua dimensi. Dalam kajian linguistik, performativitas adalah kemampuan berbicara dan komunikasi, yang tidak hanya untuk menyampaikan pesan, melainkan bertindak atau membangun sebuah identitas. Kalimat-kalimat yang ada dalam aksi (performativitas) tidak sekadar menggambarkan kenyataan, namun juga mengubah realitas sosial yang mereka gambarkan.

Melalui konsep performativity itulah Agung membedakan karyanya antara white cube performance (seni rupa pertunjukan di galeri) dan performance yang dilakukan oleh aktor di atas panggung. Ia justru ingin mendobrak batasan dengan menghindari konsep antara penonton dan panggung. Agung tidak mengandaikan karyanya bisa ditampilkan di manapun. Baginya, penonton harus mengalami dan terlibat dalam sebuah peristiwa.

Menolak disebut sebagai sutradara, Agung melabeli dirinya sebagai crowd director. Ia tidak mau mengatur, namun mengondisikan setiap proses kreatif yang berlangsung terjadi secara demokratis. Tercatat semenjak 2013, Agung telah menyelenggarakan serangkaian performance—baik sebagai aktor, penulis naskah, dramaturg, maupun pengarah artistik. Performance tersebut antara lain; Festival Seni Mencari Haryadi (2013), Masya Allah Transgenik (2013), Monuman, Ten Second Monument (2015), Hanya Kematian Yang Setia Menunggu (2015), The Remember Day Parade, Soonsbeek (2016), Dialita (2016), dan yang teranyar Gejolak Makam Keramat (2017).

Saya menganggap Agung tidak ragu untuk membahayakan dirinya dalam setiap performance. Ia sengaja menyadur nama walikota Yogyakarta dalam judul kegiatan Festival Seni Mencari Haryadi. Sosok Haryadi dianggap lalai dalam mengurus segala keperluan kota, sehingga ia menganalogikan Haryadi menghilang dan perlu dicari keberadaannya. Tak sungkan, ia juga membentuk paduan suara warga bertajuk Vox Populi Vox Polis yang lantas dipentaskan langsung di depan rumah Haryadi hanya untuk memancing Haryadi keluar.

Dua tahun terakhir, Agung giat menggeluti persoalan tragedi 1965 meskipun ia telah memulainya sejak proyek September Something hampir satu dekade silam. Proyek ini menggugah seniman seperti Iwan Effendi dan Uji Hahan Handoko untuk menelusuri sejarah pahit dan tragedi yang menimpa keluarganya. Dalam pertunjukan Dialita (Dunia Milik Kita), ia mengajak ibu-ibu eksponen tahanan politik untuk mementaskan kembali lagu nasional dan lagu yang dahulu dinyanyikan dalam bui.

Terakhir dalam Gejolak Makam Keramat, Agung mengadaptasi naskah Leng yang menceriterakan problem sosial tentang penggusuran makam keramat untuk pabrik, sebagai bentuk kekuatan kapital yang dapat menekan struktur sosial di bawahnya. Permasalahan ini masih aktual sampai sekarang, bahkan dengan upaya yang lebih masif. Pertunjukan ini diperankan oleh Teater Tamara (Tak Mudah Menyerah), beranggotakan ibu-ibu lanjut usia yang melalui sejarah panjang politik Indonesia. Dalam proyek yang terakhir, kekuatan besar Agung terletak pada keberaniannya berkolaborasi dengan subyek yang memiliki latar belakang kompleks dan kondisi fisik yang tak lagi bugar.

Pada hakikatnya seni adalah tampilnya kebenaran secara berefek (menyentuh). Ia memungkinkan tersingkapnya aneka lapisan, kompleksitas dan misteri realitas bagi kesadaran kita. Barangkali memang performativitas Agung berhasil, karena selain berpartisipasi di dalam pertunjukan, kita menelisik lebih jauh sejarah kelam yang membentuk peristiwa itu hingga hari ini. Bagi saya, Agung tidak hanya menghadirkan karya hanya sebagai ekspresi, namun juga eksperimentasi dan aksi nyata untuk menggugah kesadaran manusia, merintis, mengantisipasi membimbing kita ke arah kemungkinan baru, serta menjadi pintu masuk dalam memahami situasi/realitas sekitar.

Oleh: Hamada Adzani Mahaswara
Sumber: Qubicle.id

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Share on linkedin

Tertarik mendukung program Jaga-Jaga?

Sebagai dana sosial, program “Jaga-Jaga” akan dikelola oleh Kipper secara transparan, di mana dana yang terkumpul akan didistribusikan kepada lansia penyintas kekerasan masa lalu di Yogyakarta yang sedang membutuhkan layanan kesehatan khusus lansia maupun layanan darurat lainnya. Dengan demikian, Program “Jaga-Jaga” harapannya mampu memberi kontribusi bagi pemenuhan hak sosial penyintas yang harus tetap dijamin hingga mereka tutup usia.