Pasar Sepaham untuk Korban HAM

pasar SepaHAM

Mahasiswa, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan sejumlah komunitas peduli hak asasi manusia menggelar Pasar Sepaham bagi para korban pelanggaran hak asasi manusia.

YOGYAKARTA, KOMPAS — Mahasiswa, alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan sejumlah komunitas peduli hak asasi manusia menggelar Pasar Sepaham bagi korban pelanggaran hak asasi manusia. Sebanyak 18 organisasi sipil terlibat menyediakan puluhan stan pameran dengan beraneka produk pada Pasar Sepaham. Terdapat pula lokakarya dan pemutaran film. Mereka berinteraksi satu sama lain, sambil berdonasi untuk penyintas, korban pelanggaran HAM.

Anggota Panitia Media Pasar Sepaham, Idham Barieq, di Yogyakarta, Sabtu (23/11/2019), mengatakan, Pasar Sepaham melibatkan mahasiswa dan alumni Fisipol UGM Yogyakarta serta sejumlah relawan peduli HAM dari luar kampus. Mereka menggalang dana dalam program jaga-jaga untuk meringankan beban korban pelanggaran HAM di Tanah Air.

”Perempuan lanjut usia dan anak-anak yatim piatu, para korban pelanggaran HAM dari keluarga tidak mampu, mereka yang menderita penyakit tertentu secara menahun dan seumur hidup, kelompok warga miskin yang tidak memiliki rumah layak huni, dan tanpa pekerjaan tetap. Mereka ini sering lolos dari perhatian pengambil kebijakan. Kalau ada pun, jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan yang ada,” tutur Barieq.

Kegiatan ini tidak memiliki ketua panitia atau pimpinan. Semua yang terlibat adalah panitia, yang terbagi dalam beberapa elemen, seperti panitia media, panitia dokumenter, dan panitia hiburan.

Ia mengatakan, konsep Pasar Sepaham berusaha menyediakan ruang-ruang interaksi terbuka bagi semua kalangan, layaknya sebuah pasar. Di sebuah pasar, pertemuan, pertukaran cerita, saling membutuhkan dan melengkapi, serta interaksi sosial terjadi dalam lintas kelompok dan generasi.

Acara itu terbuka untuk umum, pengunjung yang hadir sekitar 100 orang. Konsep Pasar Sepaham hadir berkat kolaborasi mahasiswa, dosen, seniman, aktivis, pelaku bisnis, pegiat komunitas, dan berbagai elemen masyarakat sipil dari berbagai latar belakang, di tengah menguatnya sikap skeptis terhadap kerja-kerja kolektif antarwarga.

Di sebuah pasar, pertemuan, pertukaran cerita, saling membutuhkan dan melengkapi, serta interaksi sosial terjadi dalam lintas kelompok dan generasi.

Pasar Sepaham pertama kali terbentuk dan digelar tahun ini. Sebanyak 18 organisasi sipil dan komunitas yang aktif  dalam isu HAM mengisi lapak-lapak pasar. Mereka antara lain Kiprah Perempuan (Kipper), Forum Pendidikan dan Perjuangan HAM, Amnesty Internasional, Center for Religious and Cross-Cultural Studies UGM, Cupable, Global South Coalition for Dignified, Fisipol UGM, Kedai Kebun Forum, dan Yayasan Rifka Annisa.

Merajuk aksesoris

Kegiatan ini juga diramaikan dengan lokakarya atau workshop bagi berbagai kalangan, antara lain merajut aksesoris bersama Konco Mogus, membuat boneka teater bersama Papermoon Puppet Theater, dan kegiatan mewarnai bagi anak-anak bersama Siam Artista. Hadir pula berbagai lapak penjualan barang, makanan, minuman, permainan interaktif bekerja sama dengan ”Demi Sesuap Nasi”, Jamu Temukini, Medpresso, Mepi Project, Puisi Seketika, Pamflet Generasi, Sketsa Tidak Mirip, dan Sabun Tekku serta Mbakdhe.

Pasar Sepaham juga berusaha membuka peluang pertemuan antara pengunjung dengan penjual dan pengisi acara dari berbagai organisasi masyarakat sipil serta komunitas yang aktif menyerukan pemenuhan hak bagi kelompok-kelompok yang dimarjinalkan di Tanah Air. Kelompok itu antara lain penyintas pelanggaran HAM berat, kelompok difabel, kelompok minoritas agama dan penghayat, kelompok minoritas jender serta perempuan dan anak-anak penyintas tindak kekerasan.

Lintang, yang juga panitia media, mengatakan, dalam Pasar Sepaham yang hadir selama 8 jam itu ditampilkan pula mini album Sri dan film Atas Nama Percaya. Pertunjukan musik dari Forum Musik Fisipol, Beni n’Friends, Sombanusa, dan penampilan Teater Selasar. Pemutaran film Nona Kedi yang Tak Pernah Melihat Keajaiban (2013) karya Yoseph Anggi Noen, The Unseen Words (2017) karya Wahyu Utami, Pentas Terakhir (2017) karya Trianto Hapsari, A Daughter’s Memory (2019) karya Kartika Pratiwi, dan Membangun Percaya Diri (2016) karya Agus Purwanto.

Menurut Lintang, seluruh donasi dan sebagian besar keuntungan dari transaksi di PS akan disalurkan ke program Jaga-jaga yang dikelola oleh kelompok Kiprah Perempuan (kiper). Kiper sebuah komunitas yang beranggotakan ibu-ibu penyintas pelanggaran HAM berat di Yogyakarta.

Penggunaan dana ini akan dilaporkan secara berkala kepada masyarakat, khususnya relawan anggota Pasar Sepaham, dan relawan peduli HAM yang terdaftar.

Pertanian itu sumber hidup paling hakiki, tetapi diabaikan banyak pihak.

Dipa (29), alumnus Fisipol UGM yang menjaga lapak hasil produk pertanian berupa anggur dan nenas, mengatakan, sebagian petani sedang mengalami pelanggaran HAM. Tanah mereka dicaplok pengusaha dan harga hasil produk pertanian selalu jauh lebih rendah dari produk-produk lain.

”Meski lulus Fisipol, saya memilih menjadi petani dan tinggal di desa. Saya belajar dari petani dan membagikan pengalaman bagaimana bertani yang sukses dan tidak mudah menyerah pada kegagalan. Pertanian itu sumber hidup paling hakiki, tetapi diabaikan banyak pihak,” kata Dipa.

 

Oleh: Kornelis Kewa Ama
Sumber: kompas.id

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Share on linkedin

Tertarik mendukung program Jaga-Jaga?

Sebagai dana sosial, program “Jaga-Jaga” akan dikelola oleh Kipper secara transparan, di mana dana yang terkumpul akan didistribusikan kepada lansia penyintas kekerasan masa lalu di Yogyakarta yang sedang membutuhkan layanan kesehatan khusus lansia maupun layanan darurat lainnya. Dengan demikian, Program “Jaga-Jaga” harapannya mampu memberi kontribusi bagi pemenuhan hak sosial penyintas yang harus tetap dijamin hingga mereka tutup usia.