Sema’an “Gejolak Makam Keramat”, Pentasnya Perempuan Penyintas

YPKP-Semaan-Gejolak-Makam-Keramat-Pentasnya-Perempuan-Penyintas

Di tengah drama politik yang nyaris kehilangan segala kepatutan buat dicerna bagi membangun estetika dan nalar sehat, ada kebangkitan perempuan yang mengolah keprihatinan tafakur panjangnya menjadi suatu proses kreatif berkesenian. Perempuan itu, para penyintas tragedi 1965, yang pada Kamis (13/7) malam; sukses menggelar repertoar “Gejojak Makam Keramat” di gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Tak kurang dari 200 apresian memadati gedung yang lazim disebut Purna Budaya UGM ini; seperti tengah tetirah kliwonan namun nampak larut menyimak pementasan hingga usainya repertoar yang diperani selusin dari 13 perempuan penyintas itu. “Gejolak Makam Keramat” menjadi tajuk pementasan yang dibawakan oleh kelompok teater Tamara. Ternyata nama kelompok ini memiliki akronim Tak Mudah Menyerah, yang menyiratkan keteguhan tekad para anggotanya.

Kendati berkurang satu pemeran yang karena jatuh sakit sehingga tak bisa bermain, tokh penampilan selusin ibu-ibu tak mengurangi performa dan bahkan berhasil menyedot perhatian audiens yang menyaksikannya.

Kritik Atas Kegaduhan
Narasi “Gejolak Makam Keramat” merupakan hasil adaptasi dari naskah drama modern berbahasa Jawa berjudul “Leng” (Liang_Ind_Red) yang merupakan karya tinggalan mendiang Bambang Widodo Sp atau Mas Kentut; sutradara dan penulis naskah Teater Gapit, Surakarta. Almarhum lebih dikenal sebagai penulis naskah berbahasa Jawa, termasuk naskah “TUK” yang fenomenal dan sarat dengan kritik sosial.

Pertunjukan Tamara ini bercerita tentang pembangunan sebuah pabrik yang menyebabkan tergusurnya makam keramat. Mengambil setting tahun 80-an, narasi ceritanya bertutur tentang bagaimana pembangunan pabrik telah memunculkan kegelisahan bagi penduduk yang tinggal di wilayah sekitar. Hiruk-pikuk dan kebisingan pabrik yang berproduksi sepanjang waktu menyebabkan ketenteraman warga desa terganggu. Hiruk-pikuk lainnya juga disebabkan dari upaya pihak pabrik yang bersikukuh membeli tanah guna perluasan pabriknya.

Naskah Bambang Widodo Sp “Leng” berbahasa Jawa ini pada dasarnya merupakan naskah pentas realis yang populer Teater Gapit dan acapkali ditampilkan oleh kelompok teater di berbagai kota. Namun, pertunjukkan “Gejolak Makam Keramat” menampilkan konsep dan pendekatan tutur yang berbeda. Kelompok Tamara membawakannya dengan konsep sema’an dimana para aktornya membawa teks. Metode ini menjadi alternatif bagi para ibu-ibu yang telah lanjut usia dan memiliki keterbatasan dalam menghafal teks.

Kolaborasi “Partisipatif” Penonton
Selain itu, pertunjukkan ini memberikan keunikan tersendiri karena turut melibatkan penonton yang memerankan sebagai aktor ke-14. Sebelum pertunjukkan dimulai, ratusan penonton dibagi menjadi empat kelompok. Dua kelompok perempuan dibagi ke dalam kelompok Bulu dan Plantungan. Sedangkan dua kelompok laki-laki dibagi ke dalam kelompok Ambarawa dan Jefferson Library.

Partisipasi penonton dipersiapkan dengan latihan secara singkat untuk turut bermain dan terlibat dalam pertunjukan dengan dipandu oleh Achi Pradipta. Meskipun pelibatan penonton memunculkan bias suara sehingga membuat fokus ke alur cerita berkurang, namun tak sampai merusak pesan yang akan disampaikan. Lagi, model pertunjukkan ini menunjukkan tiadanya jarak antara pemain dan penonton.

Konsep pelibatan penonton dalam pertunjukkan ini bukan tanpa alasan. Menurut Sutradara “Gejolak Makam Keramat”, Agung Kurniawan, persoalan yang terjadi pada 1965 tidak bisa dilihat dari satu aktor.

“Pelibatan penonton dalam pertunjukan ini menjadi simbol bahwa kita semua terlibat dalam isu itu, walaupun tidak secara langsung”, papar sutradara. Agung menambahkan bahwa makna terlibat dalam issue (Peristiwa 1965 dan setelahnya_Red) berlaku pula bagi mereka yang memilih diam meski tahu adanya kekerasan yang terjadi dalam kurun waktu tersebut.

Kritik Atas Pembangunan
Repertoar “Gejolak Makam Keramat” menampilkan sosok Bongkrek (diperankan Bu Kadmi). Bongkrek adalah seorang mantan mandor pabrik yang tanah leluhurnya terancam oleh ekspansi pabrik. Meskipun dibujuk -termasuk dengan uang- Bongkrek tetap bertekad untuk mempertahankan tanahnya. Baginya, tanah bukanlah sebatas aset ekonomi, tapi ia memiliki makna historis dan relasi kultural yang harus dipertahankan.

Persoalan ini merupakan persoalan bersama bagi warga desa. Salah satunya karena makam keramat dimana warga desa biasa datang guna menziarahi juga terancam digusur oleh pabrik. Keberadaan mesin-mesin pabrik yang terus beroperasi juga telah memecahkan kesunyian dan memporak-porandakan kekeramatan makam. Pak Rebo, sebagai juru kunci makam, juga mengalami kegelisahan sebagaimana dialami oleh Bongkrek, mBok Senik dan warga lain.

Pentas realis yang menggambarkan model pembangunan represif masa orde baru ini masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Kepentingan perusahaan atas keuntungan selalu dinarasikan sebagai kampanye dan agenda pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Sementara di sisi yang lain, kehadiran pabrik telah memecah belah masyarakat antara mereka yang merasa pabrik telah memberikan harapan keuntungan dan mereka yang telah nyata-nyata dirugikan.

Perlawanan masyarakat untuk mempertahankan makam dan tanahnya tidak menyurutkan kehendak pihak pabrik untuk meningkatkan usaha serta memperluas pabriknya. Dengan modal yang dimilikinya, pabrik terus melakukan perluasan dan menaikkan produktifitas dengan pembaharuan mesin. Pertunjukkan ini memperlihatkan bahwa dengan kuasa modalnya, pihak pabrik mampu melenyapkan sosok Bongkrek yang dianggap sebagai pengganggu pembangunan.

 

Apresiasi bagi Teater Tamara
Selain bakat, yang mendorong suksesnya pertunjukan gejolak Makam Keramat adalah kekuatan dan kemauan dari para ibu-ibu. Pengalaman mendiami penjara satu ke yang lain dan kekerasan yang menyertainya, menjadikan mereka berhasil menjiwai peran sebagai warga desa yang tergusur dan teralienasi oleh pembangunan.

Melalui proses 20 kali latihan pra pementasan, ibu-ibu penyintas yang tergabung dalam organisasi Kiprah Perempuan (KIPER) ini menunjukkan semangat yang bergelora. Termasuk ketika Bu Sri Wahyuni, mantan penyanyi keroncong istana, menyanyikan lagu keroncong berjudul Ambarawa dengan diiringi oleh Orkes Keroncong Agawe Santosa dan Leilani Hermiasih. Dengan berdiri bertopang pada tongkat, perempuan yang rata-rata berusia hampir 90 tahun ini bernyanyi dengan lantang.

Pertunjukan “Gejolak Makam Keramat” menjadi tontonan yang sangat eksklusif karena tidak akan diulang dan dilaksanakan kembali. Namun, pertunjukkan ini telah mencapai misinya untuk menjadikan seni sebagai tempat berkumpul dan berekspresi: baik mempertemukan orang maupun ide, pemikiran serta keberanian…

 

Oleh: Devy DC
Sumber: YPKP1965

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email
Share on linkedin

Tertarik mendukung program Jaga-Jaga?

Sebagai dana sosial, program “Jaga-Jaga” akan dikelola oleh Kipper secara transparan, di mana dana yang terkumpul akan didistribusikan kepada lansia penyintas kekerasan masa lalu di Yogyakarta yang sedang membutuhkan layanan kesehatan khusus lansia maupun layanan darurat lainnya. Dengan demikian, Program “Jaga-Jaga” harapannya mampu memberi kontribusi bagi pemenuhan hak sosial penyintas yang harus tetap dijamin hingga mereka tutup usia.