Tentang Jaga-Jaga

“Jaga-Jaga” adalah sebuah program penggalangan dana yang digagas oleh seniman, akademisi dan aktifis hak asasi manusia yang peduli pada pelanggaran HAM, terutama pada isu genosida 65. Seperti diketahui genosida 65 tidak saja pembunuhan, pembuangan atau kekerasan lainnya, tapi juga di dalamnya ada upaya sistematis pemiskinan korban dan keluarganya. Pemiskinan itu dilakukan dengan cara antara lain, perebutan hak milik secara paksa, peniadaan akses ekonomi bagi penyintas dan keluarganya dan penghalangan bagi penyintas untuk hidup secara layak seperti situasi sebelum 65 dengan hidup sesuai dengan keahlian dan pendidikannya. Akibat dari itu, sebagian besar penyintas dan keluarganya hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, sehingga sebuah upaya bersama untuk meringankan beban ekonomi layak dan wajib dilakukan.

Program “Jaga-Jaga” memberikan dukungan bagi para penyintas kekerasan masa lalu yang semakin menua dari hari ke hari. Terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan khusus untuk lansia membuat banyak penyintas sulit memenuhi kebutuhannya di kala sakit atau kondisi darurat.

Sebagai dana sosial, program “Jaga-jaga” akan dikelola oleh pihak professional dan secara transparan, di mana dana yang terkumpul akan didistribusikan kepada
lansia penyintas kekerasan masa lalu di Yogyakarta yang sedang membutuhkan layanan kesehatan khusus lansia maupun layanan darurat lainnya. Dengan demikian, program “Jaga-jaga” harapannya mampu memberi kontribusi bagi pemenuhan hak sosial penyintas yang harus tetap dijamin hingga mereka tutup usia.

Platform galang dana sukarela “Jaga-jaga” dilakukan dengan berbagai cara; pasar tiban, peluncuran album, penjualan karya seni atau menyumbang secara langsung lewat rekening digital yang telah disiapkan.

Selain persoalan keberdayaan ekonomi, sesungguhnya program ini juga adalah upaya untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman atas isu genosida 65 terutama pada generasi muda yang tidak mempunyai cukup informasi tentangnya. Tanpa timbulnya kesadaran mengenai genosida 65 maka generasi baru akan hidup dengan pengertian palsu dan sesat yang sengaja diciptakan untuk mengaburkan fakta dan data sejarah.

Dokumentasi KIPPER

Kiprah Perempuan (KIPPER) berdiri tanggal 19 Maret 2006. KIPPER adalah komunitas perempuan korban dan penyintas pelanggaran HAM berat 1965 di Daerah Istimewa Yogyakarta yang dibentuk dalam rangka memutus lingkar impunitas pelanggaran HAM melalui upaya-upaya integrasi dan inklusi sosial, membangun kemandirian dan keberdayaan, mendorong akses layanan publik, dan mengupayakan jaminan perlindungan keamanan.

Anggota KIPPER pertama berjumlah 15 orang ibu-ibu yang melakukan pertemuan setiap 2 bulan sekali pada hari Minggu ketiga setiap bulannya. Kemudian berkembang menjadi 50 orang ibu sampai saat ini, dan bergulirnya waktu jumlahnya satu demi satu meninggal karena usia. Anggota KIPPER tersebar dari 4 kabupaten yaitu Bantul, Sleman, Kulonprogo dan Kota Yogyakarta.

Fopperham merupakan organisasi pendidik dan pejuang hak asasi manusia dalam pemenuhan hak asasi manusia dan menyelesaikan serta memperkuat kelompok korban pelanggaran HAM. Fopperham berkehendak mewujudkan masyarakat demokratis, berkeadilan dan sejahtera yang hidup saling menghargai dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Dokumentasi Fopperham
Dokumentasi TAMARA

Teater Tak Mudah Menyerah (TAMARA) merupakan kelompok Teater yang beranggotakan 13 orang ibu-ibu penyintas 1965, berdiri pada 28 Februari 2017. Pertunjukan pertama TAMARA berjudul Gejolak Makam Keramat disutradarai oleh Agung Kurniawan dan Irfanuddien Ghozali di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjosoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada pada 13 Juli 2017. Pertunjukan ke-dua berjudul Selamatan Anak Cucu Sumilah disutradari oleh Irfanuddien Ghozali di Selasar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada pada 30 November 2018. TAMARA selalu membuka peluang kerjasama bersama seniman, aktivis, peneliti, mahasiswa dalam setiap bentuk kegiatan dan pertunjukan yang dilakukannya.