Updates

tempo-sebuah-kritik-post-kolonial

Sebuah Kritik Post-Kolonial

Power and Other Things” merupakan satu di antara tiga pameran utama Europalia 2017. Disambut hangat karena kritis. KAMI bangsa Indonesia….” Teks Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan Sukarno 72 tahun lalu kembali berkumandang di Bozar, gedung pusat seni rupa, Brussels, Belgia, pada

Beritagar-Para-penyintas-Yogyakarta-nan-tak-mudah-menyerah

Para penyintas Yogyakarta nan tak mudah menyerah

Para pemeran itu perempuan perkasa berdisiplin tinggi. Untuk mempersiapkan pementasan, mereka rutin berlatih seminggu dua kali sepanjang tiga bulan. Mereka tak lagi belia. Tapi, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 perempuan pemeran utama “Gejolak Makam Keramat”

Sarasvati-Jalan-Panjang-Ekspresi-Karya-Agung-Kurniawan

Jalan Panjang Ekspresi Karya Agung Kurniawan

Beberapa fragmen masa lalu kehidupannya ia olah ke dalam besi gambar, juga kritik satirenya kepada rezim yang pernah atau tengah berlangsung. Dapat dikatakan, Agung Kurniawan merupakan salah satu seniman yang berpengaruh besar dalam skena seni rupa Indonesia. Ia juga dikenal

Serunai-Tragedi-itu-Bernama-Gejolak-Makam-Keramat

Tragedi itu Bernama “Gejolak Makam Keramat”

Satu hal yang dibutuhkan agar tragedi tidak terulang adalah dengan meretrospeksi memori. Dengan memori kolektif, tragedi pun berhasil dipertunjukan. Sekitar 200 kursi penonton disediakan di depan panggung di dalam gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH UGM) pada Kamis (13/7) malam. Beberapa kursi lainnya yang berada

Gelaranid-Teater-Gejolak-Makam-Keramat

Semaan Teater Tamara: Romantisme Sejarah Seni Yang ‘Dihilangkan’

Sebagai sebuah pertunjukan, teater Tamara (Tak Mudah Menyerah) mampu mengundang penonton atau publik yang hadir untuk ikut terlibat dan memahami apa yang akan disajikan, peristiwa. Apa yang dilakukan teater Tamara yang mengangkat judul Gejolak Makam Keramat, adaptasi dari naskah berjudul LENG karya Bambang

YPKP-Semaan-Gejolak-Makam-Keramat-Pentasnya-Perempuan-Penyintas

Sema’an “Gejolak Makam Keramat”, Pentasnya Perempuan Penyintas

Di tengah drama politik yang nyaris kehilangan segala kepatutan buat dicerna bagi membangun estetika dan nalar sehat, ada kebangkitan perempuan yang mengolah keprihatinan tafakur panjangnya menjadi suatu proses kreatif berkesenian. Perempuan itu, para penyintas tragedi 1965, yang pada Kamis (13/7) malam; sukses

tempo-sebuah-kritik-post-kolonial

Sebuah Kritik Post-Kolonial

Power and Other Things” merupakan satu di antara tiga pameran utama Europalia 2017. Disambut hangat karena kritis. KAMI bangsa Indonesia….” Teks Proklamasi Kemerdekaan yang dibacakan Sukarno 72 tahun lalu kembali berkumandang di Bozar, gedung pusat seni rupa, Brussels, Belgia, pada

Beritagar-Para-penyintas-Yogyakarta-nan-tak-mudah-menyerah

Para penyintas Yogyakarta nan tak mudah menyerah

Para pemeran itu perempuan perkasa berdisiplin tinggi. Untuk mempersiapkan pementasan, mereka rutin berlatih seminggu dua kali sepanjang tiga bulan. Mereka tak lagi belia. Tapi, di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 13 perempuan pemeran utama “Gejolak Makam Keramat”

Sarasvati-Jalan-Panjang-Ekspresi-Karya-Agung-Kurniawan

Jalan Panjang Ekspresi Karya Agung Kurniawan

Beberapa fragmen masa lalu kehidupannya ia olah ke dalam besi gambar, juga kritik satirenya kepada rezim yang pernah atau tengah berlangsung. Dapat dikatakan, Agung Kurniawan merupakan salah satu seniman yang berpengaruh besar dalam skena seni rupa Indonesia. Ia juga dikenal

Serunai-Tragedi-itu-Bernama-Gejolak-Makam-Keramat

Tragedi itu Bernama “Gejolak Makam Keramat”

Satu hal yang dibutuhkan agar tragedi tidak terulang adalah dengan meretrospeksi memori. Dengan memori kolektif, tragedi pun berhasil dipertunjukan. Sekitar 200 kursi penonton disediakan di depan panggung di dalam gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH UGM) pada Kamis (13/7) malam. Beberapa kursi lainnya yang berada

Gelaranid-Teater-Gejolak-Makam-Keramat

Semaan Teater Tamara: Romantisme Sejarah Seni Yang ‘Dihilangkan’

Sebagai sebuah pertunjukan, teater Tamara (Tak Mudah Menyerah) mampu mengundang penonton atau publik yang hadir untuk ikut terlibat dan memahami apa yang akan disajikan, peristiwa. Apa yang dilakukan teater Tamara yang mengangkat judul Gejolak Makam Keramat, adaptasi dari naskah berjudul LENG karya Bambang

YPKP-Semaan-Gejolak-Makam-Keramat-Pentasnya-Perempuan-Penyintas

Sema’an “Gejolak Makam Keramat”, Pentasnya Perempuan Penyintas

Di tengah drama politik yang nyaris kehilangan segala kepatutan buat dicerna bagi membangun estetika dan nalar sehat, ada kebangkitan perempuan yang mengolah keprihatinan tafakur panjangnya menjadi suatu proses kreatif berkesenian. Perempuan itu, para penyintas tragedi 1965, yang pada Kamis (13/7) malam; sukses

Tertarik mendukung program Jaga-Jaga?

Sebagai dana sosial, program “Jaga-Jaga” akan dikelola oleh Kipper secara transparan, di mana dana yang terkumpul akan didistribusikan kepada lansia penyintas kekerasan masa lalu di Yogyakarta yang sedang membutuhkan layanan kesehatan khusus lansia maupun layanan darurat lainnya. Dengan demikian, Program “Jaga-Jaga” harapannya mampu memberi kontribusi bagi pemenuhan hak sosial penyintas yang harus tetap dijamin hingga mereka tutup usia.